fbpx

TARIDISI BUGIS MAKASSAR UNTUK MEMBELA HARGA DIRI DENGAN CARA SIGAJANG LALENG LIPA’ / SITOBO’ LALENG LIPA’ (BAKU TIKAM DALAM SARUNG)

Tidak bisa dipungkiri bahwa Indoensia punya berbagai macam tradisi dan ritual yang menajdi kekayaan budaya bangsa, seperti tradisi kebo keboan di Banyuwangi, omed omedan di Bali, dan tradisi batu bakar di papua. Masyarakat Bugis Makassar di Sulawesi Selatan punya sebuah tradisi untuk menyelesaikan masalah apabila tidak mencapai kata mufakat dalam sebuah musyawarah.

Untuk mencapai kata sepakat, maka harus menempuh Assigajangeng atau baku tikam yang kemudian dikenal dengan nama Sigajang LalengLipa atau dikenal juga sebagai Sitobo Lalang Lipa, dalam ritual ini, dua orang yang bertikai akan menyelesaikan permasalahannya dengan bertanding menggunakan badik (senjata khas masyarakat Bugis Makassar) dalam sebuah sarung sebagai batas arena pertandingannya. Kedua pria yang menjadi perwakilan dua pihak ini akan saling menikam satu sama lain, ritual ini menjadi cara terakhir apabila kedua pihak tidak mencapai kata sepakat, misalhnya apabila mereka menganggap dirinya sama sama benar.

Menurut kepercayaan masyarakat suku Bugis Makassar, sigajang laleng lipa  kerap terjadi pada masa kerjaan Bugis, saat kedua belah pihak yang bersetru sama sama merasa benar dan merasa harga dirinya terinjak. Sarung dalam sigajang laleng lipa memiliki arti sebagai symbol persatuan dan kebersamaan suku Bugis Makassar. Pertarungan Sigajang Laleng Lipa biasanya dilakukan di lapangan atau tempat tertentu yang kemudian dijadikan sebagai arena.

Cara ini sebenarnya sangat dihindari, karena masyarakat Bugis Makassar di Sualwesi Selatan mengenal sebuah pepatah yang berbunyi “Ketika badik telah keluar dari sarungnya, pantang diselip dipinggang sebelum terhujam di tubuh lawan (sebeluh kena darah)”, filosofi ini bermakna sebuah masalah dapat dicapai solusi terbaiknya tanpa  harus menggunakan kekersan meski melibatkan dewan adat. Tetapi apabila sudah menyangkut harga diri, mau tidak mau biasanya akan ditempuh oleh pihak yang berkonflik, karena dalam busaya suku Bugis Makassar terdapat dua hal yang digengam erat, yaitu konsep ade’ yang berarti adat istiadat yang harus di junjung, Siri Na Pacce (Siri’ atau rasa malu, dan Na Pacce yang berarti rasa iba).

Siri punya makna paling kuat dalam budaya masyarakat Bugis Makassar, hal ini terlihat dari sebuah pepatah Bugis yang berbunyi, “Siri’ Paranreng Nyawa Palao”, yang berarti harga diri yang rusak hanya bisa dibayar dengan nyawa lawannya. Bagi masyarakat Bugis Makassar, manusia yang tidak punya siri atau rasa malu bukanlah siapa siapa tetapi seekor binatang.biasanya pertarungan Sigajang Laleng Lipa akan memberikan hasil yang imbang, antara kedua pihak, meninggal atau kedua sama sama hidup, setelah melakukan Sigajang Laleng Lipa, kedua pihak yang bertikai tidak boleh lagi memiliki rasa dendam, dan masalah yang menajdi bahan pertikaian dianggap sudah selesai meski saat ini tradisi Sigajang laleng lipa sudah mulai ditinggalkan masyarakat Bugis Makassar di Sulawesi Selatan sebagai sarana mencapai kata mufakat, namun tradisi ini tetap dilestarikan dalam bentuk tarian yang dipentaskan diatas panggung, pementasan sigajang laleng lipa akan diawalai dengan aksi bakar diri oleh penari dengan menggunakan obor, lalu dilanjutkan dengan pemberian mantra oleh seorang Bissu pada peserta dari kedua belah pihak yang akan melakukan tradisi Sigajang Laleng Lipa.

Sumber : Kumparan.com dan beberapa sumber lainnya

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hubungi Kami