fbpx

SEJARAH PATUNG MONYET BANTIMURUNG, LEGENDA KERA DARI MAROS

Patung Monyet Bantimurung atau juga dikenal dengan nama Patung Monyet Toakala adalah salah satu patung ikonik yang terdapat di kabupaten Maros. Patung ini berdiri mengangkang dan berada pada pintu gerbang kawasan Wisata Alam Permandian Bantimurung. Patung monyet yang berukuran raksasa ini memiliki keterkaitan dengan cerita legenda monyet atau kera putih Toakala. Monyet ini merupakan jenis macaca maura, yang merupakan hewan endemik dan dijadikan salah satu ikon Kabupaten Maros. Patung ini dibangun pada masa pemerintahan Bupati Maros Arief Wangsa selaku perancang masterplan kawasan Wisata Alam Permandian Bantimurung. Keberadaan patung ini merupakan simbol bahwa di wilayah ini telah dihuni banyak monyet dan juga untuk menghargai Panglima Toakala, Panglima Kerajaan Monyet di Bantimurung. Patung ini di bawah pengawasan oleh Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros.

Saat melintas di jalan poros Camba-Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), kerap dijumpai kera Macaca maura dengan mudahnya di pinggir jalan. Warga yang melintas di sepanjang jalur itu kerap turun dari kendaraan dan memberi kera-kera itu makanan.
Macaca maura merupakan salah satu satwa endemik yang mulai terancam punah yang tepatnya berada di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Maros. Kera yang tak memiliki ekor ini memiliki kecerdasan lebih dibanding monyet lantaran otaknya jauh lebih kompleks.Kera yang dalam bahasa lokal disebut dare itu punya legenda yang sampai saat ini masih dikisahkan oleh sebagian warga. Walau banyak versi, cerita itu memiliki banyak pesan moral, bahkan mitos yang tetap diyakini. Dikisahkan, ada sebuah kerajaan kera yang berada di Kampung Abbo, Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bernama Toakala atau I Marakondang. Raja ini digambarkan sebagai sosok kera tinggi besar, berbulu putih, dan pintar berbicara layaknya manusia.

Toakala yang sangat senang berburu, pada suatu hari, berangkat ke hutan mencari rusa. Namun, saat di perjalanan, tepatnya di telaga Kassi Kebo, yang berada di atas air terjun Bantimurung, ia tak sengaja melihat seorang wanita yang sangat cantik tengah mandi di danau itu.Wanita cantik itu rupanya seorang putri dari Kerajaan Pattiro bernama I Bissu Daeng. Sosoknya, putri ini memiliki kulit putih dengan rambut yang sangat panjang. Bahkan, untuk mengurai rambut panjangnya itu, dibutuhkan tujuh tiang jemuran. Hal itulah yang membuat Toakala mabuk cinta kepadanya.

Sepulang dari berburu itu, Toakala mengirim utusannya ke Kerajaan Pattiro dengan maksud meminang. Namun perasaan cintanya berubah menjadi kemurkaan, saat pihak Pattiro menolak dan bahkan mengolok-olok dirinya, tidak pantas memperistrikan Bissu Daeng yang jelita lantaran ia hanya seekor kera.Ia pun akhirnya menculik Bissu Daeng ke kerajaannya. Namun, tidak berselang lama, Bissu Daeng diselamatkan oleh seekor ular sanca besar dan membawanya pulang ke Pattiro. Toakala pun kembali murka dan memerintahkan seluruh rakyatnya untuk bersiap menyerang Kerajaan Pattiro.

“Nama Pattiro itu adalah salah satu dusun di Desa Labuaja. Jaraknya dengan Abbo mungkin ada sekitar 10 km kalau kita tidak lewat jalan umum. Di Dusun Pattiro itu juga ada beberapa reruntuhan batu yang diyakini bekas kerajaan. Selain itu, ada batu seperti ular melilit, konon itu ular sanca yang selamatkan putri,” terang Lory.Mendapat kabar akan diserang, nyali Raja Pattiro ciut dan mengatur siasat jahat. Ia mengutus panglimanya untuk bertemu dengan Raja Toakala. Ia berpesan agar Toakala datang melamar secara baik-baik dengan syarat, seluruh rakyatnya harus ikut tanpa terkecuali.


“Karena cintanya kepada Bissu Daeng, amarah Toakala pun luluh dan mengiyakan permintaan itu. Ia pun mengerahkan seluruh rakyat dan pasukannya datang ke Pattiro untuk melamar gadis pujaannya itu,” lanjut Lory.Sebelumnya, Raja Pattiro sudah menyiapkan sebuah ruangan besar yang terbuat dari jerami yang direkatkan getah pinus. Saat rombongan datang, mereka pun disambut dengan kenduri oleh Raja Pattiro di dalam ruangan besar itu. Toakala dan rakyatnya sama sekali tak sadar bahwa semua itu hanya jebakan belaka.

Belum usai menyantap makanan kenduri, ruangan besar itu sengaja dibakar oleh pasukan Pattiro dari luar hingga seluruh rakyat Toakala terpanggang oleh api. Karena Toakala memiliki kesaktian, ia bersama satu ekor kera betina hitam yang tengah hamil berhasil lolos dari kobaran api itu.Sembari berlari masuk hutan, kera hitam yang lolos itu menyeka api yang membakar hangus ekor dan pantatnya. Kera itulah yang kemudian beranak pinak menjadi Macaca maura. Sedangkan Toakala yang telah marah sekaligus merasa bersalah memilih mengasingkan diri.

“Kalau dalam cerita ini, itulah penyebabnya Macaca maura tidak memiliki ekor dan pantatnya tidak berbulu. Dikisahkan, Toakala akhirnya menyepi ke dalam gua. Nah makanya ada nama gua di Bantimurung itu gua Toakala, konon itu tempat bertapanya,” tutur Lory.Setelah peristiwa nahas itu, Bissu Daeng diliputi rasa bersalah. Ia menganggap kecantikannya menjadi malapetaka besar. Ia pun mengutuk seluruh keturunannya tidak lagi berwajah cantik seperti dirinya. Kutukan inilah yang menjadi mitos di dusun Pattiro, jika ada wanita yang lahir cantik, ia tidak akan berumur panjang

Sumber : Newsdetik.com dan beberapa sumber lainnya

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hubungi Kami