fbpx

MONUMEN KORBAN 40.000 JIWA DI MAKASSAR, PEMBANTAIAN KEJAM RAKYAT SIPIL YANG TAK BERSALAH

Menurut penuturan warga setempat, jalan yang dinamakan Korban 40.000 Jiwa ini ialah lokasi dari pemakaman warga Makassar yang dibantai oleh penjajah Belanda. Saat itu, kolonial Belanda dipimpin oleh Kapten Raymond Pierre Paul Westerling di tahun 1946-1947.Kapten Westerling yang terkenal keji ini telah membantai banyak warga sipil tak bersalah. Selama operasi militer Counter Insurgency, Westerling bersama pasukannya melakukan penumpasan terhadap pribumi yang menurutnya telah memberontak kepada Belanda.

Untuk melancarkan tindakannya, pihak Westerling telah mendata nama-nama penduduk yang ditudingnya sebagai ekstremis, penjahat, perampok dan pembunuh di antara rakyat. Padahal pada kenyataannya,Sweeping terjadi di Bulan Desember. Desa demi desa digeledah dan rakyat sipil tak bersalah dikumpulkan, hanya untuk berakhir dieksekusi di tangan penjajah. Penyisiran ini terus berlangsung ke tiap daerah di Makassar bahkan hingga Bulan Februari.

Menurut catatan, Westerling beraksi dengan menyasar sejumlah desa yang tersebar di seantero Makassar. Mulai dari Desa Batua hingga kawasan pesisir Tanjung Bunga. Sempat ke arah selatan menuju Gowa, regu DST menyisir wilayah-wilayah lain, seperti Barru, Pangkep, Enrekang hingga Mandar. Alhasil monumen korban aksi brutal tak hanya di Makassar, ada juga yang didirikan di kota Parepare, sebenarnya tidak mencapai jumlah angka itu (40.000 jiwa). Namun angka itu memiliki dampak yang luar biasa sekali dan kata 40.000 itu merupakan angka yang diucapkan oleh Kahar Muzakar untuk menggugah dunia internasional sebagai upaya untuk menggugat Belanda karena ada pelanggaran HAM yang telah dilakukan saat itu.

Kawasan ini terletak di Makassar bagian Utara, tepatnya di jalan dengan nama yang sama. Terdapat sebuah taman yang tertata rapi di sudutnya. Sebuah pendopo sederhana bertuliskan “Monumen Korban 40.000 Jiwa Sulawesi Selatan” dibangun di dalamnya. Pada dinding monumen, terdapat relief panjang seperti mural yang menarik perhatian. Terlebih, sebuah patung pria dengan kaki yang teramputasi dan hanya memiliki satu lengan seolah menggambarkan betapa mengerikannya insiden berdarah yang diakibatkan oleh Westerling saat itu.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hubungi Kami