fbpx

SEJARAH RAJA BONE ARUNG PALAKKA & PERJANJIAN BONGAYA


Di akhir abad ke enam belas, kerajaan Makassar Gowa yang terletak di bagian barat daya semenanjung pulau Sulawesi di Indonesia berkembang menjadi kekuatan besar di kawasan tersebut. Pada pertengahan abad ke tujuh belas, kerjaan tersebut berhasil memasukkan banyak kerjaan di Indoesia Timur di bawah kekuasannya, dan menguasai kegiatan perdagangan menguntungkan yang memperjual belikan cengkeh, pala, serta bunga pala yang berasal dari Maluku Utara. Sesudah Gowa memeluk agama islam di tahun 1605, kerajaan ini mulai melancarkan apa yang dikenal rentetan “Perang Islam” yang berhasil memaksa sejumlah kerjaan non-Muslim di Jazirah tersebut untuk juga memeluk agama islam. Rentetan perang tersebut berakhir di tahun 1611 dengan penaklukan serta pengislaman Bone, yaitu kerjaan Bugis paling berkuasa ketika itu. Rakyat Makassar dari Gowa kemudian di tengarai oleh orang Bugis sebagai penjajah mereka, dan di pertengahan abad ke tujuh belas banyak orang Bugis yang berasal dari sejumlah kerjaan Bone dan Soppeng dihimpun di Kota Makassar untuk membangun sejumlah kubu sebagai persiapan menghadapi serangan yang ditakutkan dari Kompeni (VOC). Perlakuan keras dan kasar terhadap buruh paksa Bugis tersebut, ditambah dengan stighma yang dikaitkan dengan pengislaman paksa yang terjadi sebelumnya di abad tersebut, melahirkan fenomena Bugis terkenal yaitu Sirik : sebuah pandangan di Sulawesi Selatan yang lajizm dimaknai sebagai rasa “Malu”. Dalam rasa malu tersebut. Diantara orang Bugis yang dibawa ke Makassar sebagai buruh terdapat Arung Palakka, seorang keturunan ningrat dari Soppeng. Bersama sejumlah pengikutnya, beliau berhasil melarikan diri dari Makassar, mula pertama mereka ke Buton sebelum akhirnya mencari suaka di Batavia, pusat VOC dan di tempat itu mereka disambut serta diberikan sebuah kawasan permukiman di luar kota yang dikenal dengan nama Angke; itu sebabnya orang Bugis di tempat itu juga dikenal sebagai To-Angke yaitu orang dari Angke”. Sementara hidup dalam suaka di Batavia, Arung Palakka beserta orang Bugis para pengikutnya dipekerjakan sebagai serdadu tambahan dalam aksi-aksi militer di pesisir Barat Sumatra yang kemudian berhasil melenyapkan cengkraman orang Aceh atas permukiman Minangkabau di tahun 1666. Keberanian serta kesetiaan orang Bugis dicatat oleh pihak Belanda, sehingga ketika mereka merencanakan sebuah serangan terhadap pelabuhan Makassar di kerajaan Gowa, yang merupakan saingan utama VOC, Belanda mencari dan memperoleh dukungan dari Arung Palakka. Arung Palakka menjadi sangat dihormati oleh orang Bugis, dan ketika kembali bersama armada Belanda, beliau berhasil membujuk banyak pejuang Bugis untuk bergabung ke pihaknya sehingga mereka, para penyerang, memperoleh kemenangan. Kendati didukung bantuan besar dari para pejuang Gowa bersama, mereka akhirnya dikalahkan untuk pertama kali di tahun 1667, dan akhirnya untuk kedua dan terakhir kali di tahun 1669; dan dengan demikian berakhir pula Perang Makassar yang berkepanjangan (1666-1669).

Surat ini merujuk pada Perjanjian Bungaya yang menutup tahap Pertama Perang Makassar di tahun 1667, yaitu ketika rakyat Bugis memperoleh kembali harga diri mereka, dan dengan demikian juga menghapus beban menanggung Sirik. Hadiah tak terniali yang diberikan kepada orang Bugis oleh pihak Belanda menyebabkan mereka tetap setia tak tergoyahkan pada VOC seperti yang diperlihatkan Arung Palakkad an penggantinya, La Patau sepanjang hidup mereka. Ketika Arung Palakka menduduki tahta kerjaan Bone di tahun 1672, beliau menjadi pemimpin yang tidak diragukan lagi bagi seluruh jazirah Sulawesi dan beliau dijamin mendapat dukungan menyeluruh dari pihak Belanda, Barang siapa pun yang ditengarai tidak setia terhadap beliau, digeser dari kekuasaan, dipaksa untuk melarikan diri ke luar kawasan atau dihukum. Akibatnya, terjadi gelombang pelarian besar-besaran dari Sulawesi dan banyak di antara mereka digeser dari jabatannya di sejumlah kerajaan di nusantara ketika itu. Rujukan terkait menurunkan  To-Ésang sebagai penguasa Soppeng oleh Arung Palakka adalah salah sebuah contoh yang mencerminkan keadaan dalam kurun waktu bersangkutan. Kematian Arung Palakka di tahun 1696 membuka peluang bagi mereka yang sebelumnya dikucilkan atau digeser untuk menuntut pengakuan kembali. Usaha To-Ésang untuk memperoleh tahta Soppeng menjadi pokok persoalan surat ini, beserta penjelasan panjang lebar yang diberikan oleh La Patau and Daeng Talele, yaitu mereka yang paling dekat dengan Arung Palakka, dan dapat dinilai sebagai contoh terkait cara mereka berdua berusaha mempertahankan warisan Arung Palakka di jazirah tersebut. Sepanjang masa kekuasaannya, La Patau dihadapkan pada sejumlah tantangan seperti yang diuraikan dalam surat ini, yang berhasil diatasinya dengan dukungan menyeluruh dari pasukan serta pemerintah Belanda yang berkedudukan di Benteng Rotterdam di Makassar.

Perjanjian Bungaya mengubah total arah sejarah yang seharusnya terjadi di Sulawesi Selatan. Perjanjian yang terdiri dari 26 pasal ditambah tiga pasal tambahan ini bukan hanya menjadi momentum jatuhnya Kerajaan Gowa, tetapi juga menandai awal kekuasaan penuh dari Kompeni di bagian timur Nusantara. Empat bulan sebelumnya, berakhirnya Perang Kedua Inggris-Belanda membuat Belanda mendapatkan Pulau Run, penghasil utama pala di Kepulauan Banda, setelah menukarkannya dengan Niew Amsterdam yang kelak menjadi New York.

Perjanjian Bungaya juga menimbulkan kerugian besar bagi kelompok pedagang internasional lain yang telah lama berdagang di Somba Opu, terutama pedagang Inggris. Perjanjian tersebut memutuskan bahwa semua pedagang Eropa (kecuali pedagang Belanda), India/Moor, Jawa, Melayu, Aceh dan Siam dilarang berdagang di Makassar. Sehari setelah poin-poin Perjanjian Bungaya akhirnya disepakati pada 18 November 1667, para pedagang dari berbagai bangsa, terutama Inggris dan Portugis, mulai meninggalkan Somba Opu. Dua hari setelahnya, Speelman memasuki Benteng Jumpandang yang kelak diubah namanya menjadi Fort Rotterdam.

Bagi pihak kerajaan kembar Gowa-Tallo sendiri, perjanjian ini seolah menjadi penutup kejayaan Makassar sebagai kekuatan paling besar di bagian timur Nusantara sejak awal abad ke-17. Perjanjian Bungaya mengharuskan agar semua benteng yang dimiliki oleh kerajaan tersebut, kecuali Somba Opu dan Jumpandang, dihancurkan. Pada 24 Juni 1669, Sompa Opu yang menampung istana Kerajaan Gowa ikut jatuh akibat kekalahan perang susulan yang diinisiasi oleh Karaeng Karunrung setelah Perjanjian Bungaya.

Dengan begitu jatuhlah seluruh benteng Kerajaan Gowa-Tallo ke bawah kekuasaan Kompeni. Kenyataan ini digunakan oleh Kompeni untuk menguatkan kembali isi Perjanjian Bungaya yang telah disepakati dua tahun sebelumnya. Pada 15 Juli 1669, perwakilan Tallo datang ke Fort Rotterdam untuk mengakui kembali perjanjian tersebut, disusul dengan perwakilan Gowa yang datang pada 27 Juli 1669. Mereka menaruh senjata dan bersumpah dengan Alquran, meminum air serta menghunus keris untuk mengakui kembali perjanjian itu.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hubungi Kami