fbpx

Kajang Masyarakat Adat yang Sederhana dan Bersahaja

Kajang menjadi salah satu destinasi wisata kebudayaan yang wajib di kunjungi saat berada di Makassar. Tak sedikit dari wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengunjungi Kawasan Adat Ammatoa ini.  Meskipun tidak berada tepat di Kota Makassar, namun kita bisa menggunakan kendaraan mobil atau bus travel untuk sampai disana, dari Makassar ke Bulukumba sekitar 6 jam perjalanan.

Suku Kajang bermukim di Desa Tana Toa, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah kajang terbagi dalam 8 desa, dan 6 dusun. Namun perlu diketahui, kajang di bagi dua secara geografis, yaitu kajang dalam (suku kajang, mereka disebut “tau kajang”) dan kajang luar (orang-orang yang berdiam di sekitar suku kajang yang relatif modern, mereka disebut “orang-orang yang berdiam di sekitar suku kajang yang relatif modern, mereka disebut “tau lembang”).

Yang menjadi pembeda dengan dusun lainnya ialah, di sini kehidupan warganya tidak menggunakan teknologi modern. Sebagai tamu sekalipun dilarang keras menggunakan teknologi modern dan telah menjadi aturan adat sejak dulu. Kamera dan telepon genggam dilarang masuk kecuali hanya pulpen dan buku catatan yang bisa dibawa masuk.

Bukan hanya itu bentuk rumah kajang dalam sangat berbeda dari rumah pada umumnya. Kajang dalam (kawasan ammatoa) menempatkan dapur dan tempat buang airnya didepan. Hal ini dikarenakan pada zaman perang prajurit kajang sering masuk kerumah penduduk untuk mencari makan itulah sebabnya dapur dan tempat buang air kecilnya ditempatkan didepan rumah bukan hanya itu agar prajurit juga tidak melihat anak dari pemilik rumah karena prajurit beranggapan apapun yang berada di dalam rumah itu adalah miliknya.

Saat berkunjung ke Kajang dalam, kita akan diantarkan menuju rumah Pemimpin Adat Komunitas suku Kajang yang dipanggil Ammatoa. Amma menggunakan pakaian serba hitam: kameja, sarung, serta ikat kepala. Amma didampingi 3 orang galla atau pemangku adat. Dalam struktur lembaga adat Ammatoa, Amma selaku pemimpin adat dan spiritual, dibantu oleh 26 galla yang memiliki tugas serta tanggungjawab masing-masing.

Ada hal menarik saat keluar dari kawasan dan berpapasan dengan sejumlah anak sekolah dasar. Jika di tempat lain seragam sekolah dasar berwarna merah putih, anak-anak Kajang berseragam hitam putih. Celana atau rok merah diganti hitam. Di sini, warna merah adalah pantangan dan dilarang. Maka seragam anak-anak Kajang disesuaikan aturan adat mereka. Dalam kesehariannya, orang Kajang menggunakan pakaian berwarna hitam yang ditenun sendiri. Di rumah-rumah warga, terdapat alat tenun, dan biasanya diletakan di bawah rumah. Tenun ini dikerjakan oleh tangan perempuan Kajang.

Sebuah Lippa’ lel’leng atau sarung tenun bisa selesai dalam dua minggu. Proses menenun disebut siring. Dulu, masyarakat memental sendiri kapas menjadi benang. Namun saat ini masyarakat membeli benang dari luar. Sementara untuk mewarnai benang menjadi hitam, mereka menggunakan daun tarung yang tumbuh di ladang. Setelah sehelai tenun dihasilkan, proses selanjutnya disebut garus’u, yakni menggesek-gesek tenun menggunakan cangkang kerang laut hingga mengkilat. Tenun Kajang sangat sederhana, hitam polos, tidak memiliki banyak motif seperti tenun di daerah lain. Hitam tidak lepas dari filosofi orang Kajang. Bagi orang Kajang, hitam adalah symbol kesederhanaan dan kesetaraaan. Hal ini berangkat dari prinsip kamase-masea. Dari pakaian hingga bentuk rumah, semua sama dan setara, maka tak heran orang Kajang hidup bersahaja.

Berikut paket – paket tour Makassar yang disediakan oleh Batari Tour & Travel :
Paket Tour Makassar

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hubungi Kami